Posts

Mencari Kembali Jati Diri

Sudah lama rasanya aku tak menulis di sini, 1 tahun lebih lamanya. Sepertinya sudah banyak debu dan sarang laba-laba yang menghiasi blog ini. Entah mengapa, rasanya aku kurang inspirasi dari berbagai aspek. Terutama setelah berhentinya masa perkuliahan ku. Rasanya waktuku juga berhenti. Tak ada sesuatu yang dapat membuatku tergugah untuk menulis kembali. Kemudian beberapa bulan belakangan, aku merasa kehilangan jati diriku. Aku merasa seperti tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan, Tak tahu aku itu sebenarnya siapa? Tak tahu aku itu harus menjalani hidup setelah ini bagaimana? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku. Yang bahkan aku tak dapat mengontrolnya, dan membuatku semakin bingung menjalani hari-hariku. Sudah lama rasanya tak berbicara dengan diri sendiri, Sering kali aku merasa tak membutuhkannya. Padahal aku butuh. Kubaca kembali diary-diary lamaku, tulisan-tulisan lamaku dari saat akhir-akhir SMA. Karena hanya itu yang tersisa, di saat buku diary saat SD...

Kedudukan Ibu Dan Istri Bagi Laki-Laki

Image
Tulisan ini terinspirasi sekaligus penjelasan berdasarkan faedah2 yang pernah kupetik, terkait tulisan @gsatria di bawah. Banyak yang sedang membahas perkara ini, "Prioritasin ibu atau istri dulu?" Jadi ingat, pernah ikut kajian juga yang kurang lebih ustadznya berbicara soal, jangan pernah tanya ke suami, "Pilih aku atau ibumu."  Sebab, kita tak boleh membuat dia memilih salah satu. Bagaimana pun, ibunya itu yang telah melahirkan dan membesarkan suami. Dan kita juga adalah tanggungjawab suami serta calon ibu dan ibu dari anak-anaknya suami. Dalam agama ini, ada kewajiban untuk berbirrulwalidain kepada ortu (berlaku untuk suami/istri). Namun, memang setelah menikah prioritas ketaatan istri berubah menjadi lebih taat kepada suami dulu, baru orangtuanya.  Nah kewajiban birrul walidain ini bukan berarti suami harus prioritasin memberi nafkah ke ortunya dulu, baru ke istri-anak. Jelas tetap lebih utama dia kasih nafkah ke istri...

Focus To Myself

No expectations, No wishes, No goals, No to do lists. Just focus to heal myself first. And biidznillah, i am feeling so much better after doing it. I know rise isn't easy,  I don't know will it's only maintain for few moments,  And will I be back to that phase again? But I want to believe everything will be better. Wether there will be sadness again, I want to easily rise again. I want more care to myself, i don't want to hurt her again. So, I just want to focus on myself. Afterall, there's no one who really understands u, beside Allah and urself. —Rihlatul-Amal Friday, May 31, 2024. In Mataram.

Menjadi Mahasantri: Kuliah Tak Menghalangiku Menuntut Ilmu Syar'i

Pernah dengar istilah “Mahasantri”? Aku pribadi belum tahu siapa yg pertama kali mempopulerkan/menciptakan istilah ini, namun yang pasti salah satunya kuketahui istilah ini dari judul buku karangan Ustadz @mabduhtuasikal hafidzahullahu. Juga kembali kubaca saat membaca buku karya ukhti @fatimahadining berjudul “To Be A Mahasantri.” Istilah Mahasantri ini sendiri adalah gabungan dari kata “Mahasiswa” dan “Santri”. Yang artinya meskipun sedang kuliah dan berstatus sebagai mahasiswa, juga berstatus menjadi santri. Walaupun memang tak mengenyam pendidikan formal di pondok pesantren. Lalu di manakah belajar agamanya? Belajar agamanya melalui asatidz yang diketahui tsiqoh keilmuannya baik melalui kajian atau pembelajaran bertahap, baik secara offline di Masjid maupun secara online. Dan hal inilah yang juga kurasakan selama menjadi mahasiswa selama 4 tahun lebih kemarin.  Meskipun jurusan kuliahku adalah jurusan umum, ini tak menghalangiku belajar ilmu syar’i. Jika waktu pagi hingga soren...

In The Process Of Healing

Step by step, I'll surely get better. Even though it's not easy to heal. Maybe there will be up and down, Maybe after healing for some time, i'll get hurt again. But it's better for me to take the process, and trying to enjoy it. The process to heal isn't easy, It's not going to very smoothly, But no matter how hard it is, Allah surely will help me. "Allah doesn't burden a soul beyond that it can bear." If Allah knows I can pass it and be heal, Allah will help me. O Allah, please ease me to heal and recover to be normal again. Aameen. —Rihlatul-Amal Tuesday, January 23, 2024. In Mataram.

Allah, Bantu Aku.

Image
Ketika sedang sedih, sering kali membuat kita lupa akan kebaikan-kebaikan yang kita dapatkan. Ketika sedang sedih, rasa syukur sangat sulit untuk dirasakan. Ketika sedang sedih, seakan merasa kita adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Padahal, Allah telah berfirman bahwa Ia tidak akan membebani seseorang di luar kesanggupannya. لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Padahal, Allah telah berfirman bahwa jika kita menghitung nikmat-Nya maka tidak dapat terkira. وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nahl: 18). وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggaka...

Aku Sedang Membenci Diriku

Aku sedang membenci diriku. Dan tak ada seorang pun yang dapat menyangkalnya. Aku benci dengan sakit pada sekujur tubuhku, yang menimbulkan bekas luka. Aku benci dengan mataku yang sedang penuh bekas luka. Aku benci kantong mata serta mata pandaku akibat insomnia. Aku benci melihat mataku yang semakin sayu dan tak ada rasa berbinar lagi. Aku benci melihat pipi dan tanganku yang kian mengurus akibat kurangnya nafsu makan. Aku benci dengan diriku yang tak lagi memiliki minat pada hal-hal yang dahulu sangat kusukai. Aku benci dengan diriku yang tak lagi bisa merasakan rasa kebahagiaan. Aku benci dengan diriku yang semakin mudah cemas dan tersinggung. Aku benci dengan diriku yang selalu mengulangi hal-hal yang sama setiap hari, namun tak ada perubahan berarti. Aku benci diriku yang selalu merasa kesepian dan merasa tak ada seseorang untuk berbicara. Aku benci diriku yang selalu menangis di tiap keheningan malam. Terkadang, aku berpikir apakah akan ada orang yang dapat membantuku? Namun, se...

Selembut Sutra

Hati yang selembut sutra, Mudah tersentuh perasaannya Mudah menangis saat dibacakan ayat-ayat Al Qur'an Hati yang selembut sutra, Besar rasa ibanya Besar sedekah yang Ia keluarkan untuk yang membutuhkan Hati yang selembut sutra, Mudah menyesal atas dosa-dosa yang Ia lakukan Mudah menangis dan beristighfar untuk menambal dosa-dosanya Hati yang selembut sutra, Besar rasa empatinya Besar keinginan memberikan pertolongannya, sampai lupa akan kebahagiaan dirinya sendiri Hati yang selembut sutra. Tentu bukannya aku, Akan tetapi orang lain. Tentu bukannya aku, Akan tetapi kuharap suatu saat aku bisa menjadi sepertinya. Menjadi orang yang hatinya selembut sutra. Hati yang selembut sutra. Kuharap suatu saat aku memilikinya. Kuharap Allah mudahkan untuk memperbaiki hatiku. Kuharap Allah senantiasa memudahkan memperbaiki niatku agar lillah. Kuharap Allah dapat menjadikanku orang yang baik dan hatinya selembut sutra. —Rihlatul-Amal Jum'at, 20 Oktober 2023. Di Kota Mataram.

Tak Sesederhana Yang Terlihat.

Ia orang yang sederhana. Mudah bahagia, dari hal-hal kecil dan sederhana di sekitarnya. Ia orang yang sederhana. Mudah pula terpikirkan, menjadi cemas dan tak beraturan, 'hanya' karena hal-hal yang terlihat kecil bagi sebagian orang. Semua serasa seimbang, antara perasaannya yang mudah bahagia dan mudah tak bahagia. Orang-orang yang tak terlalu mengenalnya terkadang melihat dari satu sisi saja, seolah Ia adalah manusia yang sempurna. Seolah tak ada masalah berarti yang terjadi pada dirinya. Padahal tak ada yang sempurna di dunia ini selain Allah ta'ala saja. Kita dapat cepat bahagia, setelah sebelumnya bersedih. Kita dapat tertawa, setelah sebelumnya penuh amarah dan kekesalan. Ini memperlihatkan seberapa rumitnya emosi yang terjadi sebagai manusia. Seringkali kita tak dapat menyadari dan memahami emosi yang benar-benar kita rasakan dalam diri. Sebab, kita terlalu fokus pada kesulitan yang ada, sehingga lupa untuk sadar dan lupa apa yang sebenarnya dirasakan diri. Mengontro...

Memulai Kembali

Memulai kembali memang bukanlah hal yang mudah, Ada perasaan cemas dan takut. Cemas tidak bisa memenuhi ekspektasi orang-orang. Cemas tidak bisa memenuhi ekspektasi diri sendiri. Takut tidak bisa menyelesaikan semua tepat waktu. Takut tidak bisa konsisten. Takut tertinggal dengan yang lain. Entah siapa yang kukejar, jika aku sebenarnya sedang berada di jalanku sendiri. Jalan, yang mungkin tingkat tantangannya berbeda dengan orang lain. Jalan, yang mungkin aku yang lebih familiar bagaimana proses penyelesaiannya, dibandingkan dengan orang lain. Lalu mengapa tak pernah selesai melihat rumput tetangga yang lebih hijau? Mengapa tidak fokus menanam, memupuk, menyemai, merawat rumputku sendiri?  Agar tumbuh lebih subur, lebih hijau, dan tinggi. Mungkin belum waktunya rumputku tumbuh lebih baik. Aku masih fokus untuk memperbaiki lahannya yang masih belum terlalu subur. Hati yang ibarat lahan, masih sangat kering untuk ditanami sesuatu. Perbaiki lagi, suburkan lagi. Meskipun sulit sekali u...

Living The Moment

Even though sometimes there are ups and downs on life, Can't I just hope to living the moment? Can't I just focus on what's currently happening? Rather than think about future moments, that's still blurry and we don't know what might happen later. I wanna feel excitements again. I wanna feel happiness again. I wanna feel something that makes me alive. I wanna feel something that makes me enjoy the life. I wanna feel something that makes me can have thought, "Oh, I can't wait for tomorrow!" or "I can't wait to do this and that, and also another things!" Ah, how I miss when still on my childhood phase, there are no fear of tomorrow.  Just wanna play, play, and play.  As if this world is really a fun place. Now as we get older, we realized the world isn't that fun. There are realities and possibilities that come to us, and we can't easily runaway from it. I just wanna living the moments. No certain thoughts. Just feeling the exciteme...

Ok, Gonna Accept The Reality.

The new phase of life after college are not really easy. There's so much things to adapt again. There's so much things to think again. So, this is how it feels to be a mature human, huh? When I understand, I can't get back to the college phase and had to leave all of my memories there. Feeling like difficult at first. Feeling so lonely at first. But, this past few days I kinda learned. I have to accept the reality. Not all people always stay with me. But, I can try to adapt again and makes new friends, or stay with my old friends that still care to me too. Even if we're only can talks via online, it is okay too. When meeting up with the new friends irl, I also learned that's how life works. Wether they leave you, or you leave them. Or both of you and them trying to maintain and stay together. Afterall, this dunya is only temporary. Yes, that temporary. To think how many people that already leaving us to their grave? That's more hurts than people who're just ...

Sisa Dari Takdir

Pelan, namun pasti. Ku terima segala takdir yang Allah tuliskan. Ku tahu tak ada gunanya menyalahkan hal yang telah terjadi. Walaupun begitu, sisa-sisa dari hal itu tetap masih ada. Rasa traumatis itu masih ada. Akibatnya masih ada. Dan ku tak bisa memungkirinya. Terlalu lama denial juga tak baik. Sedih dan takut terhadap hal yang sudah terjadi, bukan berarti tak menerima takdir. Namun perlu waktu untuk bisa mengerti, dan memahami bahwa terkadang tak semua hal bisa sesuai apa yang kita inginkan. Pikiran berlebihan pun tak bisa dikendalikan, Ini bukan hal yang kuinginkan. Ku telah berusaha untuk menghilangkannya, namun tak mudah. Perlu waktu untuk menyembuhkan luka-luka itu. Perlu waktu untuk menghilangkan rasa takut itu. Tak semua orang pantas untuk dijadikan tempat curahan hati. Tak semua orang mampu memberikan respon sesuai yang diinginkan. Tak semua orang dapat memahami. Dan yang tersisa, hanyalah aku dan Allah. Menerima takdir, bukan berarti mengenyampingkan efek sampingnya. —Rihla...

Between Fake And Reality

Her minds are confused, Why do everything seems so complicated? After that, the reality that she had only feels fakes, again and again. She can't difference between what's real and fake anymore. After that, only emptiness that she had. She can't feel excited or happy to get what she likes or faves before. She afraid the happiness that she might feels are only temporary. She start questioning herself, how are real happiness feels like again? So much things happened, made her can't enjoy things she used to like to. She lost her interest on almost everything. She lost her passion. She lost her motivation. She lost herself. She realized, that even when her wants are granted, she still can't feels happy. "What's wrong with me again?" "Am I not grateful to get all of this?" "Why is this happened?" "Am I the wrong one?" "But.. I just wanna be happy, that's it." —Rihlatul-Amal Tuesday, May 9, 2023. At Mataram.

Senyuman Yang Lepas

Senyuman itu mulai hilang dari raut pipinya. Sudah lama rasanya tak melihat senyumnya yang benar-benar tersenyum lepas. Kemanakah senyum itu pergi? Apakah dunia terasa begitu tak membahagiakan baginya? Ataukah Ia merasa kebahagiaan yang Ia rasakan akhir-akhir ini, tak pantas untuk diberikan senyuman? Ah, ternyata kebahagiaan yang Ia rasakan hanyalah sebuah kesemuan. Terkadang Ia pun tak bisa membedakan, yang mana kebahagiaan palsu dan yang mana kebahagiaan sebenarnya. Rasanya sulit untuk membedakannya. Senyuman yang selama ini Ia torehkan, ternyata juga hanyalah senyuman palsu. Untuk menyembunyikan rasa tak bahagia dalam dirinya,  Untuk memperlihatkan dunia seolah Ia masih baik-baik saja. Ia masih berharap, suatu saat Ia dapat kembali memberikan senyuman yang lepas dan tulus dari lubuk hatinya. Tentunya, hanya dapat Ia keluarkan jika memang Ia merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Namun kapannya Ia masih tak tahu. Yang pasti, Ia masih terus berusaha untuk berharap pada Allah ta'al...

Tak Mengapa Menepi Dulu

Tak mengapa, menepi sementara. Dari hiruk-pikuk dunia, dari belajar ilmu-ilmu yang dulu sangat semangat kau pelajari. Sebab, saat ini kau harus fokus menyembuhkan dirimu dahulu. Tak mengapa, menganggap dirimu tak seproduktif dulunya. Meninggalkan rutinitas-rutinitas yang biasa kau lakukan sebelumnya. Meninggalkan hal-hal yang kau gemari dulunya. Sebab, saat ini kau hanya ingin fokus pada kebahagiaan yang lebih hakiki. Tak mengapa, tak terlalu berinteraksi dengan banyak manusia dahulu. Tak mengapa, tak terlalu melihat kabar terbaru mereka dahulu. Sembuhkan lebih dahulu luka-luka yang kau rasakan. Fokus hanya pada hal-hal yang tak memberatkan pikiranmu. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sabarkanlah dan kuatkanlah dirimu. Kehidupan dunia hanyalah beberapa malam yang bisa dihitung. Kalian hanyalah kafilah yang sedang singgah. Hampir-hampir salah seorang di antara kalian dipanggil (untuk berangkat) lalu dia memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat menoleh. Kembalilah kalian ...

Merasakan Alur Hidup Lambat, dan Bersyukur.

Saat kecil dulu, ku pikir menjadi dewasa itu sangat menyenangkan. Bisa pergi ke tempat yang ku mau dengan bebas, Bisa melakukan hal-hal yang dulu dilarang karena terkendala umur, Bisa membeli makanan dan barang-barang yang kuinginkan dengan mudah. Namun setelah ku alami sendiri, ternyata tak semudah itu. Pernah pula saat itu ku berpikir, untuk bisa masuk ke dalam surga hanya cukup dengan sholat lima waktu dan bisa membaca Al-Qur’an dengan benar saja. Namun setelah lama belajar sekarang, ku sadari ternyata tak sesederhana itu saja. Bahwa ternyata, banyak hal yang mesti dipelajari untuk bisa berikhtiar masuk ke dalam surga. Banyak hal yang perlu dilakukan, agar kelak dapat Allah wafatkan dalam keadaan husnul khotimah. Apalagi, tak ada yang dapat menjamin amalan kita saat ini sama dengan akhirnya kelak. Sebab, amalan seorang hamba dilihat pada akhirnya. Seperti yang diterangkan di dalam HR. Bukhari, “Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” Tentunya dalam proses berikhtiar mendapa...

Dalam Kesunyian

Di keramaian, Ia memperlihatkan canda tawa bak tak terjadi apa-apa. Bercengkerama bersama teman-temannya seperti biasa. Ia dikenal sebagai orang yang ceria, pembawa kebahagiaan dan pencair suasana dari yang sebelumnya canggung. Ia selalu berusaha menciptakan kenangan baru dengan teman-temannya. Tak ada satu hari pun ingin Ia lewatkan dengan sia-sia. Ia dikenal sebagai orang yang selalu menyemangati dan peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, dalam kesunyian Ia menyembunyikan kesedihan dan kesengsaraan. Dalam kesunyian dan keheningan, air mata sering jatuh membasahi pipinya. Dalam kesunyian, ternyata Ia menyimpan hal-hal yang tak bisa diungkapkan kepada orang di sekitarnya. Menutupi dirinya, setelah lelah berinteraksi dengan banyak manusia. Dalam kesunyian, Ia merasakan kepedihan. Terkadang Ia berpikir, "Apakah ini semua tersebab dosaku, Ya Rabb?" Ia sadar, terkadang berkeluh kesah pada manusia tak semua dapat memahami. Ia menyembunyikan semua seakan masih baik-baik sa...

Kecewa Pada Amalan Sendiri

Seringnya kita lebih mudah mencari kesalahan orang lain, sehingga lupa dengan aib dan kesalahan pada diri. Maka perbanyaklah intropeksi. Fokuslah pada belum sempurnanya amal pada diri sendiri, sebelum merasa kecewa pada amalan orang lain. Ah, mengapa semudah itu melihat goresan tipis di pakaian orang lain, daripada lubang besar di pakaian sendiri? Kecewa lah pada dirimu sendiri, yang masih mudah terjebak hawa nafsu. Akan tetapi ingatlah, masih ada waktu untuk memperbaiki. —Rihlatul-Amal. 7 Januari 2022. Di Kota Mataram.

Pertemuan dan Perpisahan

Setiap di dalam suatu fase hidup, ada yang namanya pertemuan dan perpisahan. Dulu, sempat merasa takut untuk berkenalan dengan orang baru. Sebab, jika merasa nyaman aku merasa tak rela jika harus berpisah lagi dengan mereka. Tak perlu memperbanyak kenalan, pikirku. Namun, entah bagaimana caranya selalu ada cara Allah untukku bisa bertemu dan berkenalan dengan banyak orang dari berbagai latar yang berbeda. Dulu, aku yang penakut, pemalu, dan sangat introvert. Tak berani menyapa orang asing, tak bisa membuka pembicaraan. Sekarang atas izin Allah lebih mudah untuk berkenalan dengan orang baru. Tak terasa, waktu terus berjalan dan mulai kutemukan kenyamanan dengan mereka. Ternyata, tak ada salahnya mencoba membuka hati untuk berkenalan dengan orang baru. Namun ya, mengingat aku yang sudah semester akhir saat itu.  Aku sadar, aku juga tak bisa lama bersama mereka lagi. Jadi, seberusaha mungkin menikmati masa itu dan mengukir kenangan-kenangan. Sedih, iya, tapi sekali lagi, "Setiap per...