Posts

Showing posts with the label Hope

Mencari Kembali Jati Diri

Sudah lama rasanya aku tak menulis di sini, 1 tahun lebih lamanya. Sepertinya sudah banyak debu dan sarang laba-laba yang menghiasi blog ini. Entah mengapa, rasanya aku kurang inspirasi dari berbagai aspek. Terutama setelah berhentinya masa perkuliahan ku. Rasanya waktuku juga berhenti. Tak ada sesuatu yang dapat membuatku tergugah untuk menulis kembali. Kemudian beberapa bulan belakangan, aku merasa kehilangan jati diriku. Aku merasa seperti tak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan, Tak tahu aku itu sebenarnya siapa? Tak tahu aku itu harus menjalani hidup setelah ini bagaimana? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benakku. Yang bahkan aku tak dapat mengontrolnya, dan membuatku semakin bingung menjalani hari-hariku. Sudah lama rasanya tak berbicara dengan diri sendiri, Sering kali aku merasa tak membutuhkannya. Padahal aku butuh. Kubaca kembali diary-diary lamaku, tulisan-tulisan lamaku dari saat akhir-akhir SMA. Karena hanya itu yang tersisa, di saat buku diary saat SD...

Senyuman Yang Lepas

Senyuman itu mulai hilang dari raut pipinya. Sudah lama rasanya tak melihat senyumnya yang benar-benar tersenyum lepas. Kemanakah senyum itu pergi? Apakah dunia terasa begitu tak membahagiakan baginya? Ataukah Ia merasa kebahagiaan yang Ia rasakan akhir-akhir ini, tak pantas untuk diberikan senyuman? Ah, ternyata kebahagiaan yang Ia rasakan hanyalah sebuah kesemuan. Terkadang Ia pun tak bisa membedakan, yang mana kebahagiaan palsu dan yang mana kebahagiaan sebenarnya. Rasanya sulit untuk membedakannya. Senyuman yang selama ini Ia torehkan, ternyata juga hanyalah senyuman palsu. Untuk menyembunyikan rasa tak bahagia dalam dirinya,  Untuk memperlihatkan dunia seolah Ia masih baik-baik saja. Ia masih berharap, suatu saat Ia dapat kembali memberikan senyuman yang lepas dan tulus dari lubuk hatinya. Tentunya, hanya dapat Ia keluarkan jika memang Ia merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Namun kapannya Ia masih tak tahu. Yang pasti, Ia masih terus berusaha untuk berharap pada Allah ta'al...

Takut Masa Depan

Sering kali, diri diliputi oleh ketakutan. Ketakutan akan hal yang bahkan belum terjadi. Terjebak oleh sesuatu yang belum pasti, Padahal belum tentu kan dilewati. Untaian demi untaian kata tertulis untuk mengungkapkan ketakutan ini. Dari bahagia, sedih, marah, takut semua dirasakan diri. Namun, Allah sering kali menunjukkan bahwa masa depan ternyata tak seburuk itu. Di saat mempercayai tentang adanya takdir yang telah Allah catat dan tetapkan,  Di saat mempelajari tentang iman terhadap qadha dan qadar Allah. Hati pun menjadi lebih tenang dalam menjalani kehidupan. Ternyata, ketakutan itu hanya sementara. Ternyata, masa depan bisa menjadi lebih baik, atas pertolongan dari Allah ta'ala. Allah hanya ingin kita percaya setelah berikhtiar, ada yang namanya tawakkal. Tak perlu risau atas hal yang belum terjadi, insyaallah kita kan dapat melewatinya. Bukankah konsekuensi beriman kepada Allah salah satunya adalah mempercayai takdir yang baik dan buruk? Dan Allah lah yang lebih tahu yang t...

Tak Lagi Sendiri.

Menelisik kembali untaian kata yang pernah ku tulis dulu, di masa masih menjadi mahasiswa baru dan baru mengikuti kajian menurut Islam yang murni ini.. Ternyata, dulu aku sangat sekesepian itu ya? Di antara tulisan yang pernah kutulis: "Mencari teman yang bisa diajak ke kajian sunnah itu bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Mending cari temen di tempat kajiannya aja, karena mereka tanpa perlu diajak ﺇﻥ ﺷﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ sudah terbiasa ikut kajian rutin ﻣَﺎﺷَﺂﺀَﺍﻟﻠّﻪُ " "Lelah nggak sih ngajak temen ke kajian sunnah? Iya lelah bangett, tapi aku selalu ada keinginan itu, untuk memperlihatkan ke mereka begini lho rasa ademnya ikut kajian.. Aku juga ingin.. ada temen yang bisa ngingetin pas aku sedang futur dan males ke kajian:') Hadaanallah" "Masih menunggu saat itu tiba. Yaitu saat salah satu atau beberapa teman yang ku kenal mengatakan "Fi, aku mau deh ikut kajian bareng kamu", "Fi, aku boleh ikut kajian juga?" "Fi, aku lagi senggang. Aku ...

Di Hari Itu

Image
Pada hari-hari itu, aku nampak sangat bahagia. Kau ajak ku ke tempat-tempat yang kusuka. Kau ajak ku berkelana. Kau persilahkan ku tuk merekam foto di tempat tempat itu. Kau berikan ku kenyamanan. Hingga ku berpikir, bahwa ku sangat bersyukur. Namun, mengapa sekarang semua tak lagi sama? Padahal yang ku butuh hanyalah waktumu. Ku hanya butuh sedikit saja. Dan, baru kusadari betapa berharganya waktu-waktu saat itu. Tak kusangka semua 'kan jadi begini. Namun ku bisa apa? Bukankah ku harus menerima ketetapan Allah? Akan tetapi, kuharap hidayah Allah 'kan menyapamu kembali. Sehingga kau mampu menyadari, betapa tak benar nya hal yang kau lakukan. Betapa ku berharap, semua bisa kembali seperti sedia kala. Betapa ku berharap, semua bisa menjadi sama lagi. Namun, kehidupan kadang tak dapat diprediksi. Masalah datang silih berganti. Jadi begitu, ya? Apakah di waktu mendatang ku dapat menemukan rumah yang baru? —Rihlatul-Amal. Ahad, 25 Desember 2022. Di Kota Malang.

Impianku Yang Sederhana

Impianku, tak seperti orang-orang. Impianku, sekarang sudah tak berorientasi pada dunia. Aku tak terlalu berharap banyak,  Aku tak berharap punya gelar yang cukup tinggi, Aku tak berharap punya rumah yang besar dan mewah, Aku tak berharap punya harta yang terlalu banyak. Sederhana, asalkan bahagia . Itu sudah cukup bagiku. Sebentar lagi aku akan menginjak semester akhir, pikiran tentang masa depan mulai menghantui kembali. Tetapi, bukankah Allah sudah merencanakan sebaik-baik takdir bagi hamba-Nya? Aku kembali teringat, tahun 2019 dulu. Aku malah ingin keluar dari perkuliahanku saat ini, ingin menyerah dengan semua ambisi dunia. Tetapi, aku sadar ternyata ada hikmah yang Allah berikan saat aku memutuskan untuk lanjut. Dan menurutku, kuliah S1 ini sudah cukup. Setelah lulus, aku tak berencana melanjutkan S2, apalagi S3. Aku juga tidak terlalu mau kerja di perusahaan yang terkenal, karena aku paham ikhtilat. Impianku cukup sederhana. Ini juga pernah aku sampaikan dulu. Di rumah yang...