Posts

Living The Moment

Even though sometimes there are ups and downs on life, Can't I just hope to living the moment? Can't I just focus on what's currently happening? Rather than think about future moments, that's still blurry and we don't know what might happen later. I wanna feel excitements again. I wanna feel happiness again. I wanna feel something that makes me alive. I wanna feel something that makes me enjoy the life. I wanna feel something that makes me can have thought, "Oh, I can't wait for tomorrow!" or "I can't wait to do this and that, and also another things!" Ah, how I miss when still on my childhood phase, there are no fear of tomorrow.  Just wanna play, play, and play.  As if this world is really a fun place. Now as we get older, we realized the world isn't that fun. There are realities and possibilities that come to us, and we can't easily runaway from it. I just wanna living the moments. No certain thoughts. Just feeling the exciteme...

Ok, Gonna Accept The Reality.

The new phase of life after college are not really easy. There's so much things to adapt again. There's so much things to think again. So, this is how it feels to be a mature human, huh? When I understand, I can't get back to the college phase and had to leave all of my memories there. Feeling like difficult at first. Feeling so lonely at first. But, this past few days I kinda learned. I have to accept the reality. Not all people always stay with me. But, I can try to adapt again and makes new friends, or stay with my old friends that still care to me too. Even if we're only can talks via online, it is okay too. When meeting up with the new friends irl, I also learned that's how life works. Wether they leave you, or you leave them. Or both of you and them trying to maintain and stay together. Afterall, this dunya is only temporary. Yes, that temporary. To think how many people that already leaving us to their grave? That's more hurts than people who're just ...

Sisa Dari Takdir

Pelan, namun pasti. Ku terima segala takdir yang Allah tuliskan. Ku tahu tak ada gunanya menyalahkan hal yang telah terjadi. Walaupun begitu, sisa-sisa dari hal itu tetap masih ada. Rasa traumatis itu masih ada. Akibatnya masih ada. Dan ku tak bisa memungkirinya. Terlalu lama denial juga tak baik. Sedih dan takut terhadap hal yang sudah terjadi, bukan berarti tak menerima takdir. Namun perlu waktu untuk bisa mengerti, dan memahami bahwa terkadang tak semua hal bisa sesuai apa yang kita inginkan. Pikiran berlebihan pun tak bisa dikendalikan, Ini bukan hal yang kuinginkan. Ku telah berusaha untuk menghilangkannya, namun tak mudah. Perlu waktu untuk menyembuhkan luka-luka itu. Perlu waktu untuk menghilangkan rasa takut itu. Tak semua orang pantas untuk dijadikan tempat curahan hati. Tak semua orang mampu memberikan respon sesuai yang diinginkan. Tak semua orang dapat memahami. Dan yang tersisa, hanyalah aku dan Allah. Menerima takdir, bukan berarti mengenyampingkan efek sampingnya. —Rihla...

Between Fake And Reality

Her minds are confused, Why do everything seems so complicated? After that, the reality that she had only feels fakes, again and again. She can't difference between what's real and fake anymore. After that, only emptiness that she had. She can't feel excited or happy to get what she likes or faves before. She afraid the happiness that she might feels are only temporary. She start questioning herself, how are real happiness feels like again? So much things happened, made her can't enjoy things she used to like to. She lost her interest on almost everything. She lost her passion. She lost her motivation. She lost herself. She realized, that even when her wants are granted, she still can't feels happy. "What's wrong with me again?" "Am I not grateful to get all of this?" "Why is this happened?" "Am I the wrong one?" "But.. I just wanna be happy, that's it." —Rihlatul-Amal Tuesday, May 9, 2023. At Mataram.

Senyuman Yang Lepas

Senyuman itu mulai hilang dari raut pipinya. Sudah lama rasanya tak melihat senyumnya yang benar-benar tersenyum lepas. Kemanakah senyum itu pergi? Apakah dunia terasa begitu tak membahagiakan baginya? Ataukah Ia merasa kebahagiaan yang Ia rasakan akhir-akhir ini, tak pantas untuk diberikan senyuman? Ah, ternyata kebahagiaan yang Ia rasakan hanyalah sebuah kesemuan. Terkadang Ia pun tak bisa membedakan, yang mana kebahagiaan palsu dan yang mana kebahagiaan sebenarnya. Rasanya sulit untuk membedakannya. Senyuman yang selama ini Ia torehkan, ternyata juga hanyalah senyuman palsu. Untuk menyembunyikan rasa tak bahagia dalam dirinya,  Untuk memperlihatkan dunia seolah Ia masih baik-baik saja. Ia masih berharap, suatu saat Ia dapat kembali memberikan senyuman yang lepas dan tulus dari lubuk hatinya. Tentunya, hanya dapat Ia keluarkan jika memang Ia merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Namun kapannya Ia masih tak tahu. Yang pasti, Ia masih terus berusaha untuk berharap pada Allah ta'al...

Tak Mengapa Menepi Dulu

Tak mengapa, menepi sementara. Dari hiruk-pikuk dunia, dari belajar ilmu-ilmu yang dulu sangat semangat kau pelajari. Sebab, saat ini kau harus fokus menyembuhkan dirimu dahulu. Tak mengapa, menganggap dirimu tak seproduktif dulunya. Meninggalkan rutinitas-rutinitas yang biasa kau lakukan sebelumnya. Meninggalkan hal-hal yang kau gemari dulunya. Sebab, saat ini kau hanya ingin fokus pada kebahagiaan yang lebih hakiki. Tak mengapa, tak terlalu berinteraksi dengan banyak manusia dahulu. Tak mengapa, tak terlalu melihat kabar terbaru mereka dahulu. Sembuhkan lebih dahulu luka-luka yang kau rasakan. Fokus hanya pada hal-hal yang tak memberatkan pikiranmu. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Sabarkanlah dan kuatkanlah dirimu. Kehidupan dunia hanyalah beberapa malam yang bisa dihitung. Kalian hanyalah kafilah yang sedang singgah. Hampir-hampir salah seorang di antara kalian dipanggil (untuk berangkat) lalu dia memenuhi panggilan tersebut tanpa sempat menoleh. Kembalilah kalian ...

Merasakan Alur Hidup Lambat, dan Bersyukur.

Saat kecil dulu, ku pikir menjadi dewasa itu sangat menyenangkan. Bisa pergi ke tempat yang ku mau dengan bebas, Bisa melakukan hal-hal yang dulu dilarang karena terkendala umur, Bisa membeli makanan dan barang-barang yang kuinginkan dengan mudah. Namun setelah ku alami sendiri, ternyata tak semudah itu. Pernah pula saat itu ku berpikir, untuk bisa masuk ke dalam surga hanya cukup dengan sholat lima waktu dan bisa membaca Al-Qur’an dengan benar saja. Namun setelah lama belajar sekarang, ku sadari ternyata tak sesederhana itu saja. Bahwa ternyata, banyak hal yang mesti dipelajari untuk bisa berikhtiar masuk ke dalam surga. Banyak hal yang perlu dilakukan, agar kelak dapat Allah wafatkan dalam keadaan husnul khotimah. Apalagi, tak ada yang dapat menjamin amalan kita saat ini sama dengan akhirnya kelak. Sebab, amalan seorang hamba dilihat pada akhirnya. Seperti yang diterangkan di dalam HR. Bukhari, “Sesungguhnya amalan itu dilihat dari akhirnya.” Tentunya dalam proses berikhtiar mendapa...